Sleman, 30 Maret 2026 – Semangat kreativitas murid kelas XII SMAN 1 Sleman memuncak dalam gelaran Ujian Praktik Seni Budaya tahun ini. Dengan konsep kolaborasi seni yang ambisius, murid kelas XII berhasil mengubah area sekolah menjadi pusat festival seni yang mempertemukan kemegahan panggung dan estetika layar lebar.
Kesuksesan acara ini tidak datang secara instan. Di balik durasi tayang yang singkat, terdapat perjuangan panjang selama lebih dari satu bulan. Para murid berjibaku mulai dari tahap praproduksi, di mana naskah harus ditulis ulang dan direvisi berulang kali demi mencapai alur cerita yang sempurna, hingga proses syuting yang menguras tenaga.
“Kami menghabiskan waktu sebulan lebih hanya untuk memastikan naskah ini matang. Ada banyak revisi, tapi itulah yang membuat kami belajar bahwa sebuah karya yang bagus dimulai dari perencanaan yang kuat,” -Anandito Wahyu Wicaksono/XII F
Untuk menjaga eksklusivitas dan ketertiban, panitia memberlakukan sistem Reservasi Tiket Digital. Penonton yang hadir adalah mereka yang telah berhasil mengamankan kursi melalui tautan resmi yang disediakan panitia. Selain dihadiri oleh rekan sejawat dari kelas X dan XI, acara ini juga menjadi ajang penilaian serius bagi Ibu Naning Widayati, S.Pd., M.Pd., selaku guru seni budaya yang hadir untuk memberikan apresiasi sekaligus evaluasi terhadap karya film dan teater yang ditampilkan.
Dua Destinasi Seni: Sasana & Cinema
Festival ini menyuguhkan pilihan tontonan yang beragam:
Tiga Pertunjukan Teater Musikal di Sasana Pradiptatama yang menampilkan aksi panggung memukau secara langsung.
Sebanyak 18 Judul Film Pendek Musikal yang diputar secara maraton di Pradiptatama Cinema (Ruang Meeting), dengan durasi maksimal 15 menit per judul.
Sejalan dengan tagline kegiatan ini, “Layar Terkembang, Panggung Berguncang,” ujian praktik kolaborasi seni ini diharapkan menjadi ruang bagi murid untuk menunjukkan eksistensi dan totalitasnya sebelum menyelesaikan masa studi di SMA. Kegiatan ini sangat penting diadakan agar murid tidak hanya terpaku pada teori di kelas, tetapi juga merasakan pengalaman nyata dalam mengelola sebuah produksi besar—mulai dari revisi naskah yang menguras waktu hingga eksekusi panggung yang memukau. Melalui proses ini, murid belajar untuk menghadapi tantangan dengan kepala tegak, bekerja sama dalam perbedaan, dan melangkah menuju masa depan dengan kepercayaan diri bahwa mereka mampu menciptakan karya yang berdampak.
Meski antusiasme yang tinggi sempat memicu kepadatan di area pintu masuk, panitia tetap konsisten memberikan prioritas kepada pemegang tiket dan tamu undangan agar suasana menonton tetap kondusif dan apresiatif.
Selamat untuk kelas XII atas suksesnya gelaran ini! Semoga semangat kolaborasi ini terus terbawa hingga jenjang pendidikan selanjutnya.