0274 868434 

info@sman1sleman.sch.id

Sleman — Suasana penuh semangat dan antusiasme mewarnai pelaksanaan Kemah Besar Ambalan Ki Hajar Dewantara–Raden Ajeng Kartini bertajuk AMARTALOKA 2026 yang digelar pada 1–3 Mei 2026 di Bumi Perkemahan Karangasri, Purwobinangun, Pakem, Sleman. Mengusung tema “Tirta Loka Budaya” dengan jargon “Abadi dalam Tradisi, Mengalir dalam Karya”, kegiatan ini menjadi wadah pembinaan yang memadukan nilai kepramukaan, kebudayaan, kedisiplinan, dan kerja sama antarpeserta. Seluruh rangkaian diikuti oleh warga Ambalan SMAN 1 Sleman kelas X dengan penuh kesiapan dan semangat kebersamaan.

Sejak tahap pra-event, AMARTALOKA 2026 telah menunjukkan keseriusan pelaksanaannya. Pengumpulan sembako bakti sosial dilakukan pada pertengahan April, disusul technical meeting dan loading barang pada akhir April sebagai persiapan menjelang hari pelaksanaan. Aktivitas ini menjadi awal dari rangkaian panjang yang tidak hanya menuntut ketertiban administratif, tetapi juga membangun kesiapan mental, tanggung jawab, dan kekompakan tiap sangga. Dari tahap awal ini, peserta sudah diarahkan untuk disiplin, tertib, dan saling mendukung demi kelancaran seluruh kegiatan.

Puncak semangat terlihat pada hari pertama, ketika para peserta diberangkatkan menuju lokasi kemah dan menjalani registrasi secara tertib sebelum mengikuti adat buka kegiatan dan pelantikan BANTARA#2. Momen pembukaan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian AMARTALOKA yang sarat makna. Setelah itu, peserta mengikuti apel koordinasi, membangun tenda, dan menata perlengkapan sangga dengan penuh kesigapan. Dari setiap sudut bumi perkemahan, tampak kesibukan yang tertib namun dinamis, menggambarkan kesiapan peserta menghadapi rangkaian giat yang padat dan menantang.

Usai rangkaian ibadah dan kegiatan keputrian, suasana kemah memasuki fase yang semakin menegangkan sekaligus seru lewat berbagai giat prestasi. Pada cabang pionering, peserta ditantang menyusun rak serbaguna dengan ketelitian, kekompakan, dan kreativitas tinggi. Sementara itu, pada karya percik, para peserta menuangkan ide dalam karya bertema batik, memadukan unsur seni dan keterampilan dalam tekanan waktu yang ketat. Tidak kalah menarik, konservasi air menjadi ruang refleksi dan pembelajaran tentang pentingnya menjaga sumber kehidupan, sedangkan fun games menghadirkan keceriaan yang mempererat solidaritas antarsangga.

Ketegangan mulai terasa ketika Penyisihan CCP dan KOMLAP Morse Senter berlangsung pada malam hari. Para peserta harus menunjukkan ketepatan, kecepatan berpikir, dan konsentrasi penuh dalam menghadapi soal serta kode-kode yang menuntut ketelitian tinggi. Pada saat yang sama, suasana tetap tertib dan kompetitif, dengan setiap sangga berupaya tampil maksimal untuk mengamankan posisi menuju babak berikutnya. Di sinilah terlihat bahwa AMARTALOKA bukan hanya perkemahan biasa, melainkan ajang pembentukan sikap pantang menyerah, percaya diri, dan sportivitas.

Memasuki hari kedua, kegiatan berlangsung semakin padat dan penuh dinamika. Setelah ibadah pagi dan apel koordinasi, peserta mengikuti Wana Yatra yang membawa mereka menyusuri rute tantangan dengan petunjuk arah berbentuk kode warna. Kegiatan ini menuntut ketajaman observasi, kemampuan membaca situasi, dan kerja sama tim yang solid. Seusai free time, suasana kembali memanas saat Final CCP digelar. Babak demi babak dalam lomba itu menghadirkan momen yang menegangkan, karena setiap jawaban menentukan peluang sangga untuk meraih hasil terbaik. Sorak semangat, ekspresi fokus, dan persaingan sehat menandai jalannya perlombaan yang berlangsung penuh energi.

Di waktu yang sama, giat Pawon Alam, Survival, Minuman Tradisional, dan Class Time memperkaya pengalaman peserta dengan pembelajaran yang bersifat praktis. Pada Pawon Alam, peserta diajak mengolah makanan tradisional Putri Mandi dengan cermat, rapi, dan menjaga kebersihan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama. Sementara itu, Survival dan Minuman Tradisional menjadi ruang untuk memahami keterampilan hidup, kepekaan terhadap kondisi alam, serta pelestarian kearifan lokal. Rangkaian ini memperlihatkan bahwa AMARTALOKA tidak hanya menekankan kompetisi, tetapi juga pembentukan karakter, kemandirian, dan kecakapan peserta dalam menghadapi berbagai situasi.

Puncak kemeriahan hari kedua terjadi pada Api Unggun, Pentas Seni, dan The Final Chapter Night. Saat api unggun dinyalakan, suasana bumi perkemahan berubah menjadi lebih khidmat sekaligus hangat, menjadi simbol persaudaraan dan semangat kebersamaan yang telah dibangun sejak awal kegiatan. Lalu, pentas seni menghadirkan penampilan tiap kelas yang menonjolkan kreativitas, ekspresi, dan kekompakan dalam balutan tema Tirta Loka Budaya. Dari proses persiapan hingga tampil di panggung, peserta menunjukkan energi, ketegangan, dan rasa bangga yang berpadu menjadi pengalaman berkesan. Malam pun ditutup dengan The Final Chapter Night yang menjadi penanda berakhirnya salah satu hari paling meriah dalam AMARTALOKA 2026.

Pada hari ketiga, suasana mulai berubah menjadi lebih reflektif namun tetap penuh semangat. Setelah ibadah pagi dan senam, peserta memasuki tahap akhir kegiatan dengan mandi, makan, bongkar tenda, serta giat bersih bumi perkemahan dan bakti sosial. Meski lelah mulai terasa, peserta tetap menunjukkan kedisiplinan dan tanggung jawab hingga seluruh area kembali tertata rapi. Adat tutup kegiatan kemudian menjadi penutup resmi rangkaian AMARTALOKA 2026, sebelum akhirnya para peserta berpamitan melalui momen sayonara yang meninggalkan kesan mendalam.

Secara keseluruhan, AMARTALOKA 2026 bukan sekadar agenda perkemahan, melainkan ruang pembelajaran yang hidup dan penuh makna. Di dalamnya, peserta ditempa melalui situasi yang menantang, lomba yang menegangkan, kegiatan yang seru, dan kebersamaan yang hangat. Dari tiap giat yang dijalani, lahir nilai-nilai penting seperti disiplin, tanggung jawab, sportivitas, kreativitas, ketangguhan, dan kepedulian sosial. Dengan demikian, AMARTALOKA 2026 berhasil menjadi pengalaman yang bukan hanya meriah, tetapi juga membentuk karakter peserta secara nyata.